Friday, September 1, 2017

Pregnancy Journal: Prolog


Yes, I’m pregnant!

Alhamdulillah. Tepatnya sih udah mau lahiran. Dari kemarin udah gemes sih mau ngeshare di blog, tapi kata-kata “pamali” menggema-gema di telingaku. Sebenarnya ngepost ini bukan hanya karena euphoria atau maruk semata, tapi memang tulus ikhlas mau sharing aja. Karena aku juga selama hamil ini suka banget baca-baca kisah kehamilan orang.
Karena memang sedikit membingungkan ya hamil itu. Apalagi tanda-tanda awalnya. Aku sempat searching sih tentang tanda-tanda kehamilan di tempat “mbah gugel”, tapi justru aku nggak mengalami hal-hal tersebut di awal kehamilan. Belakangan justru malah ngerasanya. Kayak mual-mual, buang air kecil yang semakin sering, pusing, bawaanya lemes di jam tertentu, perut terasa kejang dan berbagai hal lainnya. Jadi gimana ceritanya aku tahu kalau aku hamil?

Jadi ceritanya di awal bulan September tahun 2015 kemarin aku sadar kalau telat datang bulan. Nggak terlalu lama sih, aku sadarnya sekitar telat seminggu. Sempat berpikir ah biasa lah sekali-kali telat. Karena sebelumnya pernah juga di PHP-in sama si datang bulan kayak gini. Lagian selama telat itu aku udah ngerasain gejala-gejala PMS, senggugutan gitu. Perut keram, dan pinggang sakit. Jadi mikirnya “ah bentar lagi halangan ini”. Suami yang justru semangat untuk ngetest pack. Antara takut baper dan penasaran juga, akhirnya aku nurut deh untuk ngetes. Dimalam tanggal 6 September 2015 pergilah kita ke apotik untuk beli benda keramat itu. Aku sengaja beli dua, masih ada pikiran untuk stock. Besoknya tanggal 7 September, subuh-subuh sebelum memulai ritual masak bekal untuk suami aku penasaran juga untuk ngetes. Perasaan aku saat itu gimana? Blank! Iya blank. Kayak orang bloon gitu ngeliatin test packnya sampai muncul dua garis merah yang cukup jelas. Deg! Asli darah langsung berdesir-desir entah kemana. Jantung entah gimana udah denyutnya. Pokoknya reaksi tubuhku aneh lah.  



Lalu bagaimana? Dari kamar mandi aku langsung ngacir ke kamar. Bangunin suami yang sedang tertidur pules.

            “Yang.. yang.. ini garisnya dua. Positif.” Kataku dengan mata yang agak-agak banjir karena terharu. FYI, kita udah nunggu moment ini selama lima bulan, dan mulai lelah dengan pertanyaan "udah isi?". Emang sih nggak gitu lama dari jarak pernikahan. Tapi karena kita emang promil dari awal jadi rasanya tuh haru lah karena usaha dan harapan kita berbuah manis.

            “Eh.. eh.. ayang mimpi banjir.” Iya. Ini jawaban suami begitu terbangun. Agak-agak anti klimaks sih. Aku udah ngebayangin moment-moment romantis yang mengharu biru gitu bakalan di peluk-peluk sayang. Hahaha.. Btw, katanya kan kalau mimpi banjir itu berarti mau dapet rejeki ya?

Mungkin karena kaget kali ya jadi agak ngelantur gitu. Tapi begitu benar-benar sadar, baru deh si suami meluk dan ngucapin selamat serta beberapa kalimat lainnya yang aku lupa karena perasaan yang campur aduk. Campur aduk kenapa? Karena besoknya tanggal 8 september 2015 itu adalah tepat tanggal ulang tahunku yang ke 26. Jadi itutuh benar-benar hadiah yang indah untukku juga untuk pernikahan kami (amin).



Tapi kita belum ngasih tahu ke keluarga karena takut cuma hoax atau kesalah teknis si test pack aja. Masih di pagi yang sama sekitar jam delapan pagi, tepatnya pas suami udah pergi kerja. Aku penasaran lagi dengan hasilnya. Aku coba lagi, dan hasilnya sama dan juga jelas.

Karena belum berani ngasih tahu keluarga, aku curhat dikit dengan tetangga yang udah lebih berpengalaman. Menurut dia sih garisnya udah jelas banget dan kemungkinan besar sih valid. Dan tetanggaku ini menyarankan untuk ke dokter.

Malamnya aku dan suami sepakat untuk memberi tahu keluarga, orangtuaku dan orangtuanya. Karena hasil pencarian kami baik melalui orang yang sudah berpengalaman dan internetpun menunjukan kalau apa yang aku alami ini sudah menunjukan kemungkinan besar positif.

Saat itu ibu mertuaku lagi kurang enak badan, kita sempat bingung juga sih gimana kasih tahunya. Akhirnya suamiku ngomong langsung dan bim salabim mertuaku itu langsung terlihat segar dan bersemangat. Begitu juga orangtuaku yang aku beritahu lewat telepon, karena kami tinggal berbeda kota. Alhamdulillah ternyata ini berita baik bagi kedua belah pihak keluarga. Petuah-petuahpun datang dari orangtua kami, dan mereka menyarankan untuk segera memastikan ke dokterk obgyn agar lebih pasti.
Besok sorenya aku dan suami janjian di praktek dokter obgyn yang dekat dari rumah juga dekat dari kantor suami (biar gampang gitu ngejangkaunya) yaitu dr Angel Jelita SpOG. Dan setelah ngantri cukup lama, kami pun masuk ke ruang praktek dokter. Langsung di USG dan tarraaaa… di layar kita ngelihat ada sebuah bentuk seperti kacang merah kali ya yang sedang anteng di rahimku. Pertama sih bingung itu apa. Tapi si dokter langsung berkata, “Yup! Positif ibu. Kehamilannya udah jalan lima minggu.” Asli mau nangis lagi. Huhuhu. Bukan cengeng. Terharu lho..


Oleh dokter aku langsung di beri obat penguat rahim dan anti mual, walaupun awalnya aku belum ngerasa mual sih. 

Oke, itu dia sedikit prolog tentang kehamilanku. Tunggu cerita yang lainnya ya, yang mau ikutan sharing, monggo. Semoga bisa nambah-nambah pengetahuan kita bersama tentang awal-awal kehamilan yang sepertinya berbeda-beda itu. Untuk yang masih menanti semoga di beri kabar baik secepatnya. Untuk yang juga sudah diberi keturunan atau masih menunggu kelahiran seperti aku, sehat-sehat semua kita yah. Amin.

XOXO

No comments:

Post a Comment

Hai. Terimakasih sudah membaca postingan ini. Silahkan memberi komentar yang baik dan tentu saja sopan ya dear. 😘

Review: Beauty Story Matte Generation Lipstick (All Shade)

Holla... Setelah beberapa waktu lalu aku bahas haul dari produk-produk Beauty Story yang aku punya dan aku dapatkan dari kerja sa...