Sunday, November 19, 2017

Kopi Manis: Huh.. Halah... Argghhh!!!

Source:Pinterest

Huh itu untuk dengusan ketika kita sirik, tidak suka, benci dan merasa terintimidasi. Disinilah semuanya berawal. 
Halah untuk luapan kekesalan dan tidak terima atas kelebihan orang lain. Orang yang kita anggap nggak jauh lebih baik dari kita. Atau jujurnya nggak pantas lebih baik dari kita. Menurut kita. Maunya kita. Inginnya kita.
Argghhh untuk meledaknya kebencian dan rasa sirik yang sudah semakin menggunung. Ironisnya dibagian ini justru kitalah yang paling tersakiti. So sad...

Aku pernah sirik? Pernah dong. Sering.
Pernah disirikin? Pernah. Kalau nggak pernah, sedih amat yak. Kenapa sedih? Karena ketika kita disirikin, itu adalah pengakuan atas kualitas diri yang tidak diakui oleh yang nyirikin.

Kenapa ada yang nggak ngakui kualitas diri kita?
Ya ada aja. Dan alasannya banyak. Setiap orang punya alasan sendiri-sendiri untuk sirik. Sama sepelenya dan tidak beralasannya seperti ketika kita juga membenci orang. Sirikin orang.

Bicara tentang penyebabnya, ada beberapa hal yang aku sadari ketika aku membenci orang. Pertama, membenci karena sebelumnya pernah mendengar opini buruk tentangnya. Lalu membenci karena punya persepsi sendiri tentang seseorang. Ada juga yang membenci karena kecewa. Membeci karena cemburu. Membeci karena tidak terima dengan keadaan. Ada juga yang karena sudah underestimate sama suatu kelompok, lingkungan atau bahkan RAS. Banyak sih. Semua bisa jadi penyebab yang terkadang disadari tapi susah dikontrol.

Ada satu teman yang jujur sama aku. Dia bilang blak-blakan kalau dulu dia pernah sangat tidak suka denganku dan di mata dia semua yang aku lakukan salah (entah bagaimana kami bisa menjadi akrab sampai sekarang wkwk). Terus kalau ada prestasi atau hal baik yang aku lakukan sekecil apapun itu dia tidak akan suka. Dan dia bilang juga itu seakan memacu dirinya untuk melakukan yg lebih baik dari aku. Bagusnya adalah, kebencian memotivasi seseorang untuk berbuat lebih baik. Tapi patokan berbuat lebih baik dan menjadi pribadi lebih baik, bagusnya kita lakukan tidak karena orang lain. Apalagi yang berbau persaingan.

Ada cerita lucu. Pernah aku pakai baju yang kebetulan dia suka modelnya dan dia pengen beli tapi belum sempat. Nah tiba-tiba aku melengganglah dengan baju itu yang dimana itu baju lama aku. Dan katanya dia sebel minta ampun. Dia kesel sampe ubun-ubun. Sepele ya? Iya sepele. Karena masalah membenci dan sirik ini munculnya gampang, seringan sehelai kapas. Jadi ya gampang dan sepele.

Terus aku tanya sama dia sambil cekikikan (ini kan cerita jujur-jujurannya pas udah akur nih)
"Oalah kenapa ko bisa beci kali samaku mak?" Padahal dulu itu aku bahkan nggak pernah ngobrol sama dia. Hanya papasan beberapa kali dan kenal nama dan wajah aja.

Dan dia jawab kalau dia benci aku karena pernah dengar opini yang buruk tentang aku. Dan katanya dia,setelah dia kenal aku ternyata itu nggak benar.

Ya, aku tahu. Aku bukan tipe "everyone sweetheart". Aku tahu betul itu. Jadi itu yang membuat aku siap dan nggak perduli kalau ada orang yang nggak suka. Bukan nggak perdulian dalam artian bebal trus sukak-sukak-ku gitu. Tapi lebih ke nggak perduli karena aku yakin orang itu belum mengenalku dan aku punya prinsip tidak perlu menjelaskan jalan logika dan alasan kita bersikap dengan orang yang memang tidak perduli. Tidak mau perduli. Karena manusia berekspresi jutek, mata melotot, dan kalau ngomong ngotot karena semangat dan antusias kayak aku ini memang ditakdirkan untuk dihujat. Wkwkwk. Alhamdulillah karena aku sadar diri tadi, aku insyallah nggak dendam. Buktinya orang yang sekarang akrab denganku dan ngaku haters-ku dulu kini jadi partner in crime-ku. Apa mungkin bisa lempeng jika masih ada dendam. Aku bukan tipe orang yang memiliki banyak teman dan bertaburan. Tapi begitu aku berteman dengan seseorang itu akan menjadi hubungan yang sangat erat. Karena kualitas diatas kuantitas boss!!

"People will judge you no matter what you do.
So you might as well do what you want".

Nah berarti kasus tadi itu disimpulkan sebagai membenci dan sirik karena opini. Jadi benci dan sirik ini urusan mind set ya.

Lalu ada lagi yang udah "huek" duluan sama aku karena aku bergabung dalam organisasi kemahasiswaan yang menurut dia sok superior di kampus. Wkwkwk. Ini membenci karena lingkungan ya.

Btw benci dan sirik itu sama nggak sih? Menurutku sama. Benci akar sirik. Sirik berawal dari benci. Saling berkesinambungan. Sama-sama penyakit hati.

Walaupun disirikin itu seperti yang aku bilang tadi pengakuan (tapi nggak ngaku) atas kualitas diri kita oleh orang lain. Berarti kabar baik dong.

"Love your HATERS, they're your BIGGEST FANS".
-Kanye West-

Berarti ada yang baik dari diri kita walaupun orang lain nggak terima. Tapi, apa iya enak idup begitu? Idup disirikin begitu? Ya pasti nggak lah. Kita pasti risih dan bahkan kadang mempengaruhi ruang gerak kita. Bahkan untuk melakukan hal yang baik. Kayak dipenjara atas dosa yang nggak kita lakukan.

Dan sebagai orang yang sirik. Ini perasaanya juga nggak kalah kacau boss! Sangat menyakitkan lho saat kita benci orang atau suatu hal. Hati kita kayak diremes-remes. Remuk dan ..... isi lah sendiri please dengan hal yang paling absurd menurut kalian.

Sirik, menyiriki dan disiriki ini bagaikan efek domino. Gara-gara nila setitik rusak susu sekotak. Jadi kayaknya pantas disimpan aja dalam hati sambil nyemil coklat. Karena kalau kita utarakan kepada orang lain. Bisa melebar kemana-mana.

Jika kita yang sirik. Kita curhat ke orang "aku nggak suka deh lihat dia itu. Liat tuh... gitu amat kan ya?" Lawan bicara kita sedikit banyaknya akan terpengaruh. "masa sih?" tapi setelah itu pasti dia akan memerhatikan gerak-gerik orang yang menjadi obyek. Dan mau tidak mau hal buruk sudah melekat pada si obyek tadi setiap dia mengingatnya. Mind set kebencian dari rasa sirik tadi sudah tertransfer ke orang lain.

Sirik dan benci ini selalu berawal dari satu hal. Lalu melebar kebeberapa hal. Lalu mendarah daging kesemua hal. Parah. Sangat parah.

Begitu juga jika kita disiriki. Bisa menerima dan pasrah. Bisa juga menolak dan memberontak. Jika menerima dan pasrah, kita pasti jadi menutup diri untuk orang lain. Percaya diri kitapun hancur. Mempengaruhi banyak hal dalam hidup kita. Jelas bukan dalam hal yang baik. Kemampuan dan keinginan kita untuk mengembangkan diri juga luntur. Jika menolak dan memberontak juga bukan pilihan yang sehat. Kita jadi arogan dan menantang. Bahkan bisa menantang siapapun dan apapun yang kita anggap merugikan dan mengacaukan hidup kita. Kita justru bisa balik menyiriki dan membenci sebagai bentuk pembelaan atas apa yang terjadi sama diri kita. "Ya aku digituin orang. Aku juga gitu lah".

Simpelnya sirik menyiriki ini seperti penyebab dari pembusukan dan membusuknya karakter. SETUJUH???

Jadi udalah kita stop aja sirik menyiriki. Capek. LELAH. Nggak ada manfaatnya. Hanya memperjelas rasa insecure kita aja. 

Satu hal buruk yang bisa membuat sekitar dan segalanya menjadi buruk. Lingkungan sosial menjadi kacau dan toleransi amburadul. Hidup juga menjadi nggak kalah acak kadut.

Stop hating someone.
Stop hating each other.
Good vibes only.
Positive vibes only.
Stop hating start loving.

XOXO

Madamabi___


No comments:

Post a Comment

Hai. Terimakasih sudah membaca postingan ini. Silahkan memberi komentar yang baik dan tentu saja sopan ya dear. 😘

Roti Besak | Dah Enak - Besar Kali - Murah Pulak

Holla... Sebagai pengidap asam lambung dan maag yang cukup akut, wajib bagiku untuk sarapan sebelum beraktifitas. Menunya bisa apa ...