Monday, April 23, 2018

Movie Review: Wonder (2017)

review film wonder

Holla...
Dari dulu aku pengen sekali nulis review buku atau film. Iyeeee, gegara keracunan sama Madam Wil yang kalau nulis review dan buku di blognya tuh selalu ciamik. Tapi aku sering bingung mau mulai dari mana.

Tapi kali ini, aku benar-benar pengen nulis review tentang film ini. Karena sejak aku menyaksikannya, pikiranku selalu dipenuhi tentang hal-hal maupun pesan moral yang ada di film ini.


Yup! Bener. Ngomongin Film Wonder yang identik sama seorang anak yang menggunakan pakaian astronot  lengkap dengan helmnya itu tuh. Aku tahu ini bukan film paling hits saat ini. Masanya juga udah lewat memang. Tapi banyak hal yang mau aku ungkapkan tentang film ini. Apa sajakah itu?

Tapi sebelum aku bahas hal-hal yang menarik perhatianku di Film ini. Aku mau jelasin sedikit tentang filmnya dan sinopsis singkatnya ya.

Info Film

Film ini diadaptasi dari novel yang masuk dalam kategori New York Times Best Seller karya R.J. Palacio. Kemudian digarap oleh sutradara  Stephen Chbosky, dan di produseri oleh Michael Beugg, Dan Clark, David Hoberman dan Todd Lieberman. Diliris pada tanggal 17 November 2017. Sedangkan skenario untuk filmnya ditulis oleh Jack Thorne, Steve Conrad dan juga Stephen Chbosky.

Untuk pemerannya sendiri, mata kita dimanjakan dengan akting-akting artis hollywood yang memang sudah terkenal sangat apik dalam menghidupkan karakter mereka dalam sebuah film. Sebut saja, Julia Robert dan Owen Wilson. Bahkan artis anak-anaknya juga menampilkan kemampuan akting yang sangat piawai.

Sinopsis

Jika melihat poster filmnya aku sempat menebak kalau ini bercerita tentang seorang anak yang bercita-cita ingin menjadi astronot. Eh ngga taunya tebakanku meleset. Walaupun memang ada adegan-adegan yang bisa membenarkan tebakanku, tapi memang bukan itu pointnya. Jadi ini tentang apa mak?

Jadi ini berkisah tentang seorang anak bernama August Pullman (Jacob Tremblay), atau yang sering disapa Auggie yang memiliki kelainan fisik dibagian wajahnya (Mandibulofacial Dysostosis). Karena keterbatasaanya tersebut, ia harus bersekolah dirumah dan diajari oleh ibunya sendiri, Isabel Pullman (Julia Roberts). Ketika Auggie akan memasuki jenjang kelas lima, Isabel merasa bahwa anaknya perlu menjalani pendidikan normal seperti layaknya anak seusianya. Walaupun sempat berdebat dengan suaminya Nate Pullman (Owen Wilson), berkaitan dengan keputusannya tersebut. Namun, karena melihat keyakinan istrinya yang sudah sangat mantap, Nate akhirnya menyerah dan menyetujui serta ikut mendukung keputusan tersebut. 

Kehidupan di sekolah bukanlah hal yang mudah untuk Auggie, apalagi dengan fisiknya yang cukup menarik perhatian orang-orang disekitarnya. Disinilah konflik dari film ini bergulir. Mulai dari respon teman-temannya yang sulit menutupi keterkejutan dan skeptis dengan kondisinya. Tidak hanya Auggie yang harus beradaptasi dengan situasi ini, tapi juga kedua orangtuanya. 

Bagaimanakah Auggie dan kedua orangtuanya menghadapi segala problematika yang ada? Berhasilkah Auggie dikehidupan sekolahnya dan menjalani kehidupan selayaknya anak-anak diusianya? Untuk bagian itu, tentu aja kalian harus nonton filmnya ya. *Wink*

Moral

Seperti yang aku bilang diawal, aku banyak sekali belajar dari film ini. Tidak hanya belajar tentang bagaimana menjadi orangtua. Tapi juga belajar bagaimana menjadi anak. Menjadi saudara bagi kakak atau adik kita. Menjadi teman. Dan juga bagaimana menjadi seorang pendidik.

Sebagai seorang Ibu, aku banyak mendapati pesan yang berkaitan dengan isu parenting disini. Mulai dari bagaimana Isabel memantapkan hatinya atas keputusannya untuk menyekolahkan Auggie yang terlihat begitu mantap, namun menyimpan banyak keraguan dan dipenuhi oleh rasa was-was akan nasib anaknya disekolah. Aku jadi kebayang, bagaimana jika nanti Bang Abi sekolah. Dari sekarang aja aku udah mencemaskan hal tersebut. Apakah dia akan survive menghadapi drama pertemanan? Apakah gurunya dapat mengayominya? Apakah dia nyaman dengan lingkungan sekolahnya? 

Cara Isabel dalam menjelaskan situasi dari permasalahan yang tengah mereka hadapi kepada Auggie juga patut diacungi jempol. Ia terlihat tetap tenang, santai juga rasional meskipun hatinya jelas perih. 


Cuplikan diatas adalah ketika Isabel menenangkan Auggie yang sedang bersedih.

Pergolakan batin dari kakak Auggie, Olivia Pullman (Izabela Vidovic) yang harus merasa tersisih sekaligus memaklumi bahwa perhatian orangtuanya lebih dominan kepada adiknya. Walaupun sedih, namun Via sangat pengertian dan mampu bersikap dewasa. 

Sebagai anak, kita terkadang berpikir kalau orangtua kita tidak memberikan kasih sayang yang sama kepada anak-anaknya. Di film ini, diperlihatkan bahwa kasih sayang orangtua akan selalu sama besarnya. Namun, orangtua juga dihadapkan kepada prioritas, kebutuhan anak, serta kondisi yang memang memaksakan begitu. Tapi tetap ya, masalah kasih sayang jangan pernah kita meragukan orangtua. 

Selain itu, aku juga belajar dari setiap karakternya.

Dari Augie aku belajar untuk tetap melangkah walaupun dia tahu jalanan dihadapannya sangatlah terjal. Apalagi dibagian yang dia harus dengan berat hati tidak menggunakan helm luar angkasanya yang merupakan pelindung dari tatapan orang-orang yang memandangnya aneh. Dibagian itu aku menangkap kekuatan dari seorang anak. Usaha dari seorang anak kecil untuk belajar dalam menghadapi hidup. Sebagai Ibu, aku antara lemes jantung sama terharu dengan adegan-adegan anak kecil yang harus belajar untuk survive begitu.

Dari Jack Will (Noah Jupe), si penerima beasiswa. Aku belajar tentang bagaimana ia bisa memilih antara kepentingan dan hati nurani.

Dari Charlote (Elle McKinnon), si gadis broadway, aku belajar bagaimana kita mencintai dan bangga terhadap diri sendiri namun tidak menyakiti dan menjatuhkan orang lain.

Dari Summer (Millie Davis), aku belajar bahwa bersikap baik adalah harga mati. Dan si Summer ini adalah karakter favoritku di film ini. Sampe berandai-andai kalau punya anak cewek semoga sifatnya bisa sebijaksana si manis berambut curly ini. 


Sedangkan Julian (Bryce Gheisar), mengajarkanku bahwa memenuhi segala kebutuhan anak dalam hal materi, belum tentu kita sudah memuaskan kebutuhan jiwanya.

Kesimpulan

Jelas aku sangat merekomendasikan kalian untuk menonton film ini. Selain akting pemainnya yang mampu membawa kita dalam suasana haru biru tanpa kesan cengeng yang termehe-mehe gitu. Aku berurai air mata dari awal sampe abis filmnya, btw.

Film ini juga jelas sarat akan makna. Cerita yang dibahas dalam beberapa sudut pandang tokohnya, mengajarkan kita untuk selalu melihat masalah dalam berbagai sisi, agar kita lebih memahami duduk perkara yang sebenarnya.

Rate: ⭐️⭐️⭐️⭐️


Oia, diatas ini adalah salah satu adegan yang bikin aku terharu lho. Scene dibagian manakah ini? Yuk ditonton aja filmnya. 

XOXO

Madamabi___

4 comments:

  1. aku juga suka film ini. banyak banget pesan moral di dalamnya

    ReplyDelete
  2. Aku belum nonton nih. Thanks ya... jadi punya rekomendasi. Kalau film genre family aku juga suka. Apalagi yang menyentuh dan bikin introspeksi.

    ReplyDelete
  3. kalau ga salah ingat saya pernah liat cuplikan film nya di ig mbak, saya kira dari awal dia memang sekolah di sekolah formal, ooo ternyata sebelumnya home schooling dulu ya...

    Film ini pernuh nilai2 moral, melihat perjuangan dari si orang tua dan anak itu sendiri, ga kebayang anak seusia dia struggling karena masalah fisik yang berbeda dari yang lainnya.

    ReplyDelete

Hai. Terimakasih sudah membaca postingan ini. Silahkan memberi komentar yang baik dan tentu saja sopan ya dear. 😘

July Beauty Haul 2018 | Make Up-Skin Care-Lip Tint-Semua Ada!

Holla... Belakangan ini nafsu nulisku cukup gede. Tapi jujur, aku agak sedikit lelah menulis review. Kayaknya postinganku jadi...