Saturday, May 4, 2019

Tentang Memperjuangkan Cinta, Lalu Mengikhlaskannya | #AboutLove


“Aku tahu, kecil kemungkinan untuk kami bersatu lagi. Tapi saat itu, yang ada dipikiranku. Aku hanya ingin berjuang untuk hubungan kami. Walaupun hasilnya tetap gagal. Paling tidak, seumur hidupku aku tidak menyesal, karena tidak pernah berusaha untuk memperjuangkan cintaku.”

Medan, 18 April 2019

Semua bermula pada hari itu. Di sebuah coffee shop, yang terletak di komplek perukoan  ringroad. Siapa sangka, pertemuanku dengan seorang teman yang sudah lama tidak bertemu menjadi sangat dalam. Kami sempat larut dalam kehidupan masing-masing, sampai benar-benar jarang saling mengupdate kehidupan pribadi masing-masing. Awalnya aku pikir, perbincangan akan melebar seputar perjalanan temanku yang memang baru berkelana  ke sebuah daerah di pulau jawa sana.

Aku lupa di detik keberapa, perbincangan kami mulai spesifik tentang kehidupan percintaanya. Deg! Awalnya aku cukup kaget dia membawa topic perbincangan ini. Kupingku rasanya lebih siap mendengar tentang jumlah penyu dan orang utan yang semakin punah. Atau info tentang gajah sumatera yang semakin menjadi sasaran pemburu. Hal-hal yang memang identik dengan temanku ini. Sebab itu, ketika dia mulai menjabarkan kronoligis percintaanya, aku tahu ini cukup serius.

“Aku tahu, kecil kemungkinan untuk kami bersatu lagi. Tapi saat itu, yang ada dipikiranku. Aku hanya ingin berjuang untuk hubungan kami. Walaupun hasilnya tetap gagal. Paling tidak, seumur hidupku aku tidak menyesal, karena tidak pernah berusaha untuk memperjuangkan cintaku.” 
Itulah kalimat yang merangkum seluruh pembicaraan kami yang cukup panjang.

Iya. Ini cerita tentang seseorang yang memperjuangkan apa yang ia cintai. Berkorban untuk sesuatu yang ia rasa pantas ia pertahankan. Tapi, karakter temanku yang sangat kuat ini, menunjukkan dan mengajarkan tentang keikhlasan. Dua hal yang sepertinya sangat kontradiktif ya. Kamu ingin. Kamu ingin berjuang untuk mempertahankannya. Tapi kamu rela dan mengikhlaskan apapun yang terjadi. Kontradiktif bukan?

Tapi itulah yang terjadi. Itu yang ia lakukan.

Menempuh jarak dari satu kota ke kota lain dengan menumpangi transportasi umum, yaitu kereta api. Sembari memantapkan hati dan menguatkan kaki untuk melangkah. Berusaha mengatur nafas agar tetap teratur. Namun dalam hati dan pikiran berkecamuk bimbang. Aku bisa rasakan, betapa kerasnya ia berusaha untuk menahan bulir-bulir kristal di pelupuk matanya. Tapi jiwanya yang kuat, serta hatinya yang lapang terus memotivasinya untuk terus maju. Hanya ini saat yang tepat dan wajar untuk melaksanakan semua niatnya.

Karena, di hari kemudian. Semua itu akan berbeda lagi ceritanya.

Ini tuh termasuk tema yang jarang sekali kami obrolin. Aku dan temanku memang bukan tipe yang terlalu dalam membicarakan kehidupan pribadi masing-masing. Cukup saling tahu. Tapi tidak saling mengulik. Kalaupun saling cerita, pastilah atas keinginan pribadi dan ketika diri merasa sudah siap untuk menceritakannya.

Seperti temanku ini. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya terasa dalam. Tapi sorot matanya terlihat sangat tegar. Pastilah ini tentang peristiwa yang cukup besar yang ia lalui, tapi memang sudah berhasil ia lalui.

Cerita temanku ini benar-benar kasih pesan moral yang berharga sekali untuk aku.

Dalam hidup ini, aku termasuk yang main aman aja. Males capek. Males pusing. LOL. Secemen ituh. Cerita temanku seketika bikin semangatku untuk memperjuangkan dan mau berkorban untuk apa yang aku cintai, semakin membara. Nggak melulu dalam hal relationship. Tapi juga mencakup semua hal yang memang pantas untuk diperjuangkan. Seberapun hasilnya, yang penting udah usaha aja dulu. Sesuatu yang kamu cintai, memang pantas untuk diusahakan.

Apapun itu, dan bagaimanapun hasilnya.

Thanks mak, udah mau berbagi dan bikin aku mikir serta termotivasi  untuk berusaha memperjuangkan apa yang aku inginkan dan cintai. Usaha tapi nggak ngoyo. Mau tapi nggak maksa.

*Postingan ini sudah diketahui dan disetujui oleh yang bersangkutan ya. Bahkan dari awal aku bilang, aku tersentuh sekali dengan ceritanya. Dia sangat setuju dan mendukung untuk menuliskannya.

Oia, sharing juga dong cerita penuh perjuangan apa yang pernah kalian lalui? Boleh share juga bagaimana untuk mengikhlaskan dan menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita?

XOXO

Madamabi___

2 comments:

  1. Aku jg punya pengalaman hrs menerima sesuatu yg nggak sesuai harapan. Waktu lulus SMA aku pgn bgt lanjut ke jurusan keguruan, tp karna dkt rumah ga ada yg negri dan ortu ga sanggup membiayai, akhirnya aku disuruh masuk kampus komputer yg biayanya super terjangkau. Ternyata aku disrh masuk jurusan IT, OMG, mata kuliahnya susah2 bgt, jauh dari ekspektasiku, bahkan aku pesimis aku bisa menyelesaikan 8 semester tepat waktu, sering bgt aku merasa pgn menyerah, IT itu bukan passionku. Tp aku ga punya pilihan, aku cuma bersyukur aja aku bisa kuliah, itu satu2nya penyemangatku, walaupun cita2 untuk jd guru pupus sudah. Tapi aku bangga, aku berhasil mendapatkan beasiswa sampai lulus, setidaknya aku nggak merepotkan orangtuaku. Padahal cuma 30% mahasiswa di kelasku yg bertahan sampai lulus. Ehhh maap aku jadi ikutan curhat

    ReplyDelete

Hai. Terimakasih sudah membaca postingan ini. Silahkan memberi komentar yang baik dan tentu saja sopan ya dear. 😘

Review: Healthy Pro 3 in 1 | Sehat Dengan Habbatussauda, Propolis & Zaitun

Holla... Salah satu prioritasku di tahun ini adalah diriku sendiri. Dalam artian jasmani rohani. Sebagai bentuk self love da...