Friday, October 23, 2020

Review: Elsheskin Vitamin C Serum

October 23, 2020



Holla…

 

Mungkin kalau active ingredient skin care lain, masih banyak yang kurang akrab atau bahkan baru mengetahui. Tapi kalau Vitamin C, bisa dipastikan seawam-awamnya dengan penggunaan skin care. Pasti pernah mendengar atau mengetahui manfaatnya untuk kulit kita. Yang paling santer terdengar adalah, untuk mencerahkan kulit.

 

Brand-brand skin care lokal juga banyak meluncurkan produk perawatan kulit mereka dengan kandungan Vitamin C ini. Salah satunya adalah Elsheskin. Brand skin care lokal ini juga memiliki serum dengan kandungan tersebut. Elsheskin Vitamin C Serum. Sebelumnya aku sudah pernah mencoba beberapa serum mereka. Sekarang giliran yang vit c ini. Aku certain di sini ya. Apakah berkerja dengan baik di kulitku? Apa ada efek negative selama aku menggunakannya?

 

Keep reading beb…

 

Bright Booster Untuk Pemilik Kulit Kusam, Plus Melawan Penuaan Dini

 



Tighthens – Lighten – Antioxidant

 

Serum ini disebut juga sebagai “bright booster”. Karena mengandung whitening agent yang mampu mencerahkan serta menaikan tone kulit secara maksimal. Selain itu juga dapat menyamarkan noda kemerahan akibat bekas jerawat.

 



Disertai dengan moisturizer juga yang membuat kulit tetap terjaga kelembabannya. Sehingga membuat kulit juga terlihat lebih kencang.

 

Plus, kandungan Vitamin C dalam serum ini juga memiliki fungsi sebagai antioxidant. Seperti yang kita tahu juga, vit c mampu memacu produksi kolagen. Sehingga memberi kontribusi kepada perlawanan aging beb.

 

Produk diklaim dapat digunakan untuk pemilik jenis kulit normal, kering dan oily. Namun tidak disarankan untuk pemilik kulit sensitif dan acne prone ya.

 

Bisa disimpulkan, serum ini memang diformulasi untuk kulit yang sering terpapar polusi, kusam dan untuk mencegah tanda-tanda awal penuaan.

 

Ingredients

 

Aqua. Ethyl Ascorbic Acid. Propylene Glycol. PEG-400. Glycerin. Sodium Citrate. Retinyl Palmitate. Methylparaben. Citric Acid. Disodium EDTA. Tocoperyl Acetate. Cyclopentasiloxane. Dimethiconol. Dimethicone. Lecithin. Glycolipids. Caprylyl Glycol. Sodium Metabisulfite. Carbomer. Pottasium Hydroxide. Xanthan Gum.

 

Info produk

Netto: 20ml

POM: NA18171900255

Diproduksi Oleh: PT. Immortal Cosmedika Indonesia

Untuk: CV. Putra Jaya Mandiri (Elsheskin)

Price: 242.000

Where To Buy: Website Elsheskin – Sociolla – Tokopedia – Shopee – WA:  08122008884

 

Seperti biasa ya, untuk order via website dan WA bisa pakai kode SQUADSARIHATI untuk disc 10%

  

Dilengkapi Dengan Pump Aplikator Yang Memudahkan Penggunaan & Menjaga Kualitas Isi

 

Jika biasanya serum Elsheskin dikemas dalam botol kaca coklat disertai dengan pipet tetes, untuk yang satu ini agak berbeda. Pada bulan Juni 2020 kemarin, Elsheskin mengemas ulang serum ini dengan tampilan baru.

 

Bila sebelumnya masih disertai dengan aplikator berupa pipet tetes, sekarang aplikatornya dalam bentuk pump. Selain alasan agar lebih praktis dalam penggunaan, juga untuk melindungi isi agar lebih higienis.

 




Keseluruhan desain box dan botol masih sama. Masih lekat dengan ciri khas Elsheskin. Box merah dan detail merah-putih pada label botol.

 

Aku sendiri lebih senang dengan kemasaan pump yang baru ini. Pumpnya juga mudah dan ngga keras begitu dipencet. Keluar produk juga dalam porsi yang pas. Selain itu, bisa sebagai penanda juga dengan serum lain. Ya, karena dia berbeda sendiri dari yang lain. Hehehe.

 

Teksturnya Gel Padat, Namun Mudah Meresap & Tidak Lengket

 

Ya! Dari judul di atas sudah cukup jelas ya? Si Vit C serum ini bentuknya bener-bener gel bening yang padat. Se-gel-ituh! Tapi enaknya nih, meskipun super gel dan masuk dalam kategori gel yang padat. Begitu dibaur sangat mudah dan meresapnya juga ngga butuh waktu lama.

 



Formulanya juga nyaman banget. Aku ngga merasa ada efek lengket sama sekali. Padahal pas lihat teskturnya sempat curiga “waduh, bakalan thick banget nih kayaknya”.  Surprisingly dugaanku salah ternyata. Yeay! Haha. Salah tapi happy ya.

 

Oia, aku juga pernah dengar cerita kalau biasanya Vit C serum ini menimbulkan efek cekit-cekit. Nah yang ini ngga sama sekali. Jadituh feelnya kayak pakai gel moisturizer biasa aja. Ada efek dinginnya. Terus setelah itu kulit memang terasa lebih lembab.

 

Tekstur dan formulanya oke banget sih buat aku.

 

Ngga Ada Fragrance-nya Sih, Tapi….

 

Kalau diendus-endus dan lihat dari keterangan komposisinya, memang ngga ada aroma seperti parfum ya. Tapi aku tetap merasa ada aroma yang mungkin dari keseluruhan atau salah satu ingredient-nya yang agak terasa dipenciumanku. Yaitu aroma khas produk gel (yang umumnya aku mencium aroma seperti ini juga pada produk dengan tekstur gel lainnya). Ada juga sedikit hint asam, yang tipis banget memang. Tapi aku masih menangkapnya. Sensitif nih hidung memang, kek hati! *eh*

 

How to use

 

Aku menggunakan serum ini pada malam hari. Kalau baca-baca dari infografis di Instagram Elsheskin sih, bisa digunakan pada siang dan malam. Untuk alasan kenyamanan pribadi, aku pakainya malam hari.

 

Pakainya setelah step essence dan sebelum moisturizer. Ngga perlu gusrek-gusrek beb. teteskan sekitar 1-2 tetes di telapak tangan. Usapkan perlahan sambil dipijat-pijat lembut dan tepuk-tepuk halus hingga serum meresap sempurna.

 

Oia, seperti di postingan tentang serum Elsheskin Favorit aku sebelumnya. Aku juga selang seling dengan penggunaan serum Retinolnya Elsheskin (Active Rejuvenating Night Serum). Memang, banyak yang berpendapat kalau Retinol dan Vitamin C ngga bisa disatuin. Namun ada segudang manfaat ketika Retinol digabung dengan Vitamin C.

 

Salah duanya adalah. Karena sama-sama antioxidant, sehingga keduanya memberikan efek antioxidant yang lebih optimal. Kemudian, kemampuan Vit C memacu kolagen dapat membantu efek anti aging dari Retinol.

 



Ada tiga cara juga kalau kamu mau menggunakan mereka secara bersama-sama ya.

 



Aku pakai cara kedua, yaitu selang-seling.

 

Apakah Performanya Sesuai Klaim?

 

Ketika ingin mencoba serum ini, aku sih niatnya untuk membantu menyamarkan bekas jerawatku aja. Tapi ternyata. Asli ya. Ngga aku duga-duga tone kulitku juga memang jadi lebih cerah. Bekas jerawat juga semakin samar. Tapi yang paling kerasa ya perubahan skin tone tadi, yang menurutku cukup terasa. Memang aku pakai dari Agustus, tapi mengingat aku kan ngga pakai serum ini setiap hari lho. Tapi ngefeknya cukup terlihat.

 



Bisa jadi juga karena aku tandemin sama si Active Rejuvenating Night Serum kali ya.

 

Conclusion

 

Ngga bisa dipungkiri ya. Ini adalah salah satu serum Elsheskin yang membuat aku jatuh hati dengan mudahnya. Di kulit kering sepertiku, dia nyaman banget. Ngga bikin kulit rewel. Kayak breakout atau memperparah keringnya. Terasa melembabkan malah.

 

Niatku untuk menyamarkan bekas jerawat kemerahan juga membuahkan hasil. Plus tone kulit lebih cerah. Ya happy. Kulitku semakin terasa lebih sehat.

 

Untuk yang belum menemukan Vitamin C Serum yang nyaman atau ingin mencoba yang lain. boleh banget deh coba yang satu ini. Recommended. Intinya sih aku puas banget beb. It’s your turn!

 

Pros

 

Tekstur gel, namun cepat meresap dan ngga lengket

Formula nyaman

Menambah efek lembab di kulit

Ngga ada cekit-cekit

Efeknya mencerahkan cepat terlihat

 

Cons

 

Tidak disarankan untuk yang kulitnya sensitif atau acne prone ya

 

Repurchase?

 

Yas!

 

Rate

 

4,5/5

 

XOXO

 

Madamabi___

 

Sunday, October 11, 2020

Review: Wardah UV Shield Active Protection Serum SPF 50 PA++++

October 11, 2020


Holla…

 

Di bulan Agustus kemarin, Wardah mengeluarkan produk tabir surya terbaru mereka. Tidak hanya satu, namun dua produk sekaligus. Yaitu Wardah UV Shield Active Protection Serum SPF 50 PA ++++ dengan Wardah UV Shield Aqua Fresh Essence SPF 50 PA++++.

 



Banyak yang bertanya-tanya apa sih perbedaan keduanya?

 

Meskipun keduanya diluncurkan secara bersama-sama. Memiliki karakteristik dan ingredients yang hampir sama. Tapi terdapat  perbedaan fungsi. Yang satu fokusnya kepada “melawan dan melindungi dari polusi”. Yang satunya lagi, dikhususkan untuk yang aktif berkegiatan outdoor dan olahraga.

 

Untuk postingan kali ini, aku mau spesifik membahasa yang Wardah UV  Shield Active Protection Serum ya. Agar lebih fokus. Di postingan selanjutnya akan aku review juga Wardah UV Shield Aqua Fresh Essence.

 

Sun Screen Tepat Untuk Kamu Yang Aktif

 



Wardah UV Shield Active Protection Serum ini, diperuntukkan bagi kamu yang aktif dan memiliki mobilitas tinggi di luar ruangan. Baik bagi yang suka aktifitas outdoor, seperti berjemur misalnya. Ataupun yang pekerjaannya mengharuskannya untuk lebih banyak di lapangan.

 

Kabar baik juga untuk yang suka berolahraga. Sun screen ini pas untuk kalian. Suitable untuk dibawa berenang, lari dan berbagai olahraga yang potensial mengundang keringat.

 

Memiliki klaim SPF 50 dengan PA ++++. Board Spectrum Protection-nya berkerja 50 kali lebih optimal. Sehingga mampu menjaga kulit dari sinar UVA, UV B dan juga Blue Light.

 

Diklaim kadar Alcohol-nya 0% agar tetap ringan dan tidak lengket. 


*NOTE*

Mungkin klaim ini akan menimbulkan sedikit kerancuan ya. Karena disebutkan 0% alkohol namun dalam ingredients akan kita temui Cetearyl Alcohol. 


Jadi beb setelah aku gali-gali info dan tanya dengan temanku yang anak kimia. Begini kira-kira penjelasannya ya.


Cetearyl Alcohol dalam produk kecantikan kerap digunakan sebagai pengemulsi pada proses pembuatannya. Agar produk lebih berisi dan tidak terlalu cair. Dan kadarnya bisa sangat kecil, 0 koma sekian. Kemudian setelahnya, kadar alkohol tersebut bisa dihilangkan. Karena selain alkohol mudah menguap. Cetearyl Alcohol tadi hanya diambil manfaatnya untuk proses pengentalan. Bukan manfaat secara langsung ke kulit kita.


Itu sebabnya di klaim 0% Alcohol, bukan Alcohol Free!


Semoga jelas ya....


Komposisinya juga disebut tidak memicu komedo atau non komedogenik. Sun screen ini juga diformulasi fix untuk semua jenis kulit.


Memiliki soothing sensation, berkat kandungan Bisabolol di dalamnya. Yaitu kandungan bahan aktif yang mampu menenangkan. Berfungsi juga untuk menghalau tampilan kemerahan pada wajah akibat paparan sinar matahari.

 

FYI: Bisabolol adalah sejenis cairan dengan kandungan minyak yang tebal dan tidak memiliki warna. Bersumber dari bunga Matricaria Chamomila. Kandungan ini biasa digunakan untuk anti peradangan serta bermafaat bagi kulit sensitive.

 

 

Info Produk

 

Netto: 35ml

NA18201700047

Produced By: PT. Paragon Technology and Innovation

Price: @73.000 IDR

Where To Buy:

Online (Sociolla. Official Store Wardah di Shopee & Tokopedia. Bisa juga di online shop aku @lelipstickan-Instagram & Shopee)

 

Ingredients




Kemasaannya Simpel & Eye Catching

 



Ketika dipasarkan, dikemas dengan segel mika dan kertas karton yang cukup keras. Oia, aku ngga tahu pasti, apakah ini memang berlaku untuk seluruh kemasaannya. Tapi yang aku dapati, produk yang ada padaku, bagian mika-nya tidak begitu rekat sempurna. Seperti mau lepas. Tidak hanya yang milikku pribadi, tapi beberapa produk lain yang ada padaku (barang dagangan untuk online shop). Semoga hanya masalah aktifitas ketika pendistribusian ya. Tapi boleh deh saran aja, agar lebih memperhatikan detail pengemasannya lebih seksama lagi. Karena packaging juga mempegaruhi isi produk kan? Kalau tidak safety, bisa jadi barangnya akan rusak begitu sampai ke customer.

 




Berbeda dari kemasaan sun screen lokal pada umumnya yang berbentuk tube pencet dengan tutup fliptop di bawah. Wardah UV Shield ini berbentuk tabung persegi panjang. Sedikit mengingatkan dengan sun screen asal korea yang cukup terkenal. Apalagi warnanya cukup mirip. Kuning mangga yang hint orange-nya cukup kuat.

 




Selain memiliki tutup ulir berwarna putih agak transparant. Terdapat aplikator kecil dan ramping dengan lubang yang juga yang juga kecil diameternya.

 

Aku paham kalau ini diciptakan untuk memudahkan pemakaian. Agar bisa langsung dipoles dari aplikatornya. Namun, aku merasa kurang efektif untuk produk yang agak cair. Aplikator model begini bakalan oke kalau produknya lebih padat. Tapi ya ngga masalah sih, kalau hanya sebagai tempat keluar produk. Tapi kalau memang difungsikan untuk mengaplikasikan produk secara langsung, sepengalamanku sih kurang efektif.

 

 

Secara keseluruhan sih aku suka dengan desain produknya yang simple tapi eye catching. Size kemasaan juga pas, ngga kegedean ataupun terlalu mini. Fleksibel dipakai dan dibawa kemana-mana. Karena sun screen yang ditujukan untuk si aktif jelaslah harus dibawa kemanapun.

 

Milky Texture Yang Creamy

 




First impression aku begitu melihat teksturnya. Wow, milky dan super creamy gitu. Berwarna putih susu, persis deh seperti cream. Namun karena konsistensinya agak cair, lebih pas disebut lotion. Walaupun begitu, ketika diratakan cukup cepat membaur. Ngga begitu butuh usaha keras lah untuk meratakannya. Hanya aja karena memang aku tim sun screen dua jari. Memang aku harus benar-benar fokus dan tekun meratakannya. Haha.

 

Formulanya Terasa Melembabkan Juga Menghidrasi

 

Begitu diaplikasikan, berasa lembut banget melumasi kulit. Sensasi pertama, moisturizernya mendominasi. Kulit terasa berminyak, pekat dan licin. Tapi pada saat yang bersamaan juga, peresapannya ke kulit perlahan tapi pasti. Hal ini yang membuat, meskipun dia agak berat efek lembabnya, tapi ngga sampai ke arah greasy.

 

Begitu produk sudah benar-benar set ke dalam kulit. Efek hydratingnya membuat kulit semakin enak banget lembabnya. Sebagai pemilik kulit kering, aku benar-benar dimanjakan sama formulanya.

 

Terasa Nyaman & Ringan Meskipun Masih Ada White Cast Di Awal

 

Ngga ada sensasi ngga nyaman. Kayak gerah. Panas. Ataupun gatal. Fine-fine aja sih. Bisa dibilang meskipun lembabnya pol-pol-an formulanya cukup ringan bagiku (bagiku) (ya bagiku!).

 

Awalnya aku berpikir, ngga ada white castnya nih. Tapi setelah aku perhatikan lebih seksama. Masih menimbulkan white cast ketika awal dipakai. 




Tapi sebentar aja. Kayak hanya sensasi awal gitu. Setelah rata, ya hilang hint ashy di wajah.  Kuncinya sih, ratain dengan serata-ratanya aja, menurutku.

 

Finishnya Gimana?

 

Setelah white castnya hilang, aku melihat kulitku berasa basah (tanpa benar-benar terasa basah ya). Terlihat dewy, tapi ngga lebay gitu. Hanya seperti improve tekstur kulit jadi terlihat lebih licin dan bersinar.

 



Aku senang sih dengan efek ini. Bikin wajah kelihatan fresh.

 

Fragrancenya Kayak Bukan Aroma Sun Screen *Ups!*

 

 Wanginya itu, ala-ala body lotion (iya sun screen, tapi aromanya mirip body lotion) yang samar-samar seger. Karakter aromanya kea rah forest.  Seperti aura pegunungan yang fresh dan ringan. Ngga nyegrak. Ngga begitu lama bertahan dipenciuman, dan itu bagus bagiku.

 

How To Use

 

Tetap seperti anjuran basic skin care, ya beb. CTMP aja. Cleanser. Toner. Moisturizer. Protection.

 

Meskipun lembabnya udah pol, aku kapok beb skip moisturizer. Karena sempat ngeyel, jadinya breakout. Sempat berpikir, kalau udah pakai sun screen yang ngelembabin, amanlah itu. Tahunya ngga. Ya emang CTMP ngga pake negolah.

 

Aku juga ngga bosan-bosannya untuk selalu bilang. Pakai sebanyak dua jari. Karena takaran tersebut udah yang paling pas untuk melapisi wajah dan leher dengan rata. Lebih dikit bolehlah, karena kan bentuk wajah manusia beda-beda. Tapi ya teteup, kekeuh dua jari.

 

Tapi ngga nyaman. Pakai yang paling nyaman. Tapi nanti cemong, ratain!

 

Ingat juga untuk re-apply ya beb. Biasanya sih pas habis Dzuhur itu paling pas untuk re-apply sih bagi aku. Cuma ya sesuaikan sama aktifitas masing-masing aja.

 

Benar Ngga Mudah Luntur Meski Terkena Air & Berkeringat?

 

Aktifitas sehari-hariku sebenarnya bukan yang outdoor-outdoor banget. Tapi ada beberapa hal yang aku lakuin di luar  rumah. Di bawah terik matahari. Ya kayak jemur kain. Temenin anak main sepeda di luar rumah. Atau sekedar duduk-duduk di luar rumah sambil lihat yang ijo-ijo.

 

Selain itu, aku cukup mudah gerahan orangnya. Mudah banget berkeringat.

 

Itu yang membuat aku memutuskan untuk menggunakan varian yang Active Protection Serum ini.

 

 

Lalu, pertanyaannya. Apakah benar-benar ngga mudah luntur?

 

Aku pakai sunscreen dari pagi, sebelum jemur kain (ingat ya, kalian baca review dari ibuk-ibuk yang berkutat sama kegiatan rumah tangga lho__LOL). Itu adalah moment dimana aku paling keringat-keringatnya. Lalu sampai masuk waktu Dzuhur, ditambah udah wudhu kan. Pas aku ngaca, lapisan sun screennya masih sempurna menutup wajahku dengan rata. Kayaknya ngga lutur deh. Kalaupun luntur, dikit banget gesernya. Jadi menurutku, ini memang cukup ampuh dibawa basah-basah. Hehe.

 

Untuk yang aktifitasnya lebih aktif lagi. Mungkin akan mengalami pergeseran yang lebih kentara ya. Tapi ya tenang. Re apply aja. Kan memang harus. Lagian ketika di aplikasikan ulang, tidak terasa jadi lebih berat kok. masih sama dengan sensasi pengaplikasian pertama.

 

Worth To Buy?

 

Banget! Aku sih yes!

 

Untuk kemampuannya yang cukup powerful, formula yang nyaman dan sensasi yang menyenangkan banget. Menurutku harganya juga terjangkau deh.

 

Bahkan ini lebih bagus dari sun screen yang harganya jauh di atas ini.

 

Dalam inovasi, Wardah juga makin cerdas deh. Aku pernah pakai sun screen mereka sebelumnya, yang masih SPF 30 itu. Menurutku formulasinya jauuuuh lebih baik yang ini. Benar-benar better secara keseluruhan. Mulai dari konsep, tekstur, sampai pengemasannya.

 

Jadi untuk yang cari sun screen dengan SPF 50 dan  tangguh dipakai kegiatan outdoor dan keringat-keringatan. Terus juga memerlukan pelembab yang maksimal dalam sun screen tanpa meninggalkan efek berat. Udah deh, coba aja ini. Kali aja kulit kita sister-an. Hihi.

 

Pros

 

Teksturnya creamy, cantik banget, aku suka!

Formulanya ngelembabin dan nyaman di kulit keringku.

Ngga mudah luntur walaupun berkeringat dan cuci muka.

Harga terjangkau.

 

Cons

 

Masih ada white cast.

 

Repurchase?

 

Besar kemungkinan iya.

 

Rate

 

4/5

 

XOXO

 

Madamabi___

Wednesday, October 7, 2020

#JurnalBulananMadamabi: September 2020

October 07, 2020




Holla...


Udah lama sekali ingin bikin rekapan kehidupan setiap bulannya, yang udah aku lalui di blog. Seperti diary bulanan gitu. Biasanya cuma nangkring di jurnal aja. Karena memang aku juga suka baca diary bulanan beberapa teman blogger lainnya. Selain seru, juga melatih untuk lebih mensyukuri dan menghargai hidup (menurutku lho ya.. relatif sekali memang).


Pas juga aku pengen ada segmen (halah) baru aja di blog ini. Pengen lebih rame aja. Haha. Walaupun jadi kepuyengan sendiri nyari judul seriesnya (lol). Karena aku lemah banget bikin judul. Tapi ya udah deh, coba aja dulu dengan titel "JurnalBulananMadamabi" ini. Ntar gimana-mana, pikirin lagi deh.


Bulan September kemarin. Bisa dibilang sebagai bulan di mana, beberapa pertanyaan yang ada di kepalaku mulai terjawab secara perlahan-lahan. Juga berturut dalam satu bulan itu.


Aku semakin yakin dengan yang namanya Law Of Attraction.


Jadi, tahun ini aku memang semakin mempertanyakan tentang apa yang sudah aku lakukan di hidup selama ini. Apakah aku sudah melakukan sesuatu dengan maksimal? Apakah aku sudah melakukan hal yang memang aku inginkan. Apakah aku terlalu santai? Atau bahkan aku terlalu "ngoyo"?


Ya aku tegasin, "semakin mempertanyakan". Karena memang pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering mengisi pikiranku. Tepatnya ketika aku aku berada di awal usia 20-an. Masa-masa di mana kualitas hidup semacam tanggung jawab dan mempengaruhi masa depan.


Satu dekade berlalu, jelaslah pertanyaan-pertanyaan tadi semakin mengusik. Ditambah lagi kecendrungan si Virgo ini yang suka "mengukur" diri sendiri. Wkwk. Jelaslah aku semakin larut dan hanyut dalam pikiranku itu.


Apalagi semakin bertambahnya usia. Rasanya semakin bertambah juga beban untuk menjadi manusia yang lebih baik.


Hari-hariku belakangan ini selalu diwarnai dengan rencana-rencana di kepala. Mau apa hari ini? Harus bikin ini-itu. Ngotot untuk produktif, tapi juga pemegang teguh prinsip "selow". Kontradiktif sekali kan? Nah inilah masalah hidupku. Diriku sendiri. Pikiran-pikiranku akan diriku sendiri. Haha.


Masih bagus juga ngga mikirin hidup orang ya? Bisa matek tegang aku.


Baiknya (Alhamdulillah), karena dari remaja udah digenjot dengan buku-buku self improvement sama orangtua. Meskipun menyadari ada hal yang mengusik, aku tetap terdorong untuk balance.


Sampailah aku pada titik:


"aku mau anteng dulu deh"


"Mau kosongin gelas dulu".


Ini sih tepatnya aku jalani perlahan mulai dari akhir Agustus sampai September.


Aku fokus dan kekeuhin dalam hati untuk monotasking. Untuk membiarkan diri "diam". Untuk menahan diri agar peka melihat apa yang datang. Tetap melakukan aktifitas-aktifitas santai tanpa ambisi. Seperti baca novel, gambar, nonton, dan hal-hal nyenengin diri lainnya deh.




Sembari mempersiapkan diri untuk menerimanya, ketika waktunya telah sampai padaku.


Apa itu?


Apapun...


Baik rezeki materi.


Pengalaman.


Imbalan atas usaha yang sudah dilakukan.


Buah dari kesabaran.


Buah dari apa yang aku tanam.


Apapun!


Bukan ngarep. Tapi lebih kepada, yakin dan berserah aja deh.


Karena emang capek untuk terus-terusan cemas. Percaya aja deh sama takdir.


Aku yakinkan diriku untuk menyerahkan pada Yang Kuasa.


Lalu...


Apa yang terjadi?


Walaupun aku memang sudah memprediksikan "gaya tarik-menarik" tadi akan mengantarkan hasil. Namun aku tetap terkesima dengan cara kerjanya Allah.


Sangat smooth.


Perlahan.


Rapi.


Dan, memukau.


Aku kaget!


Haha.


Berturut-turut aku yang sedang "berdiam" ini disajikan dengan hal-hal baik. Yang justru ketika aku kejar malah semakin jauh. Sehingga akupun kelelahan.


Mulai dari project blog. Pengalaman baru. Tumbuh kembang anak. Kualitas hubungan dengan suami. Komunikasi dengan orangtua. Semua terasa berkesan.


Pikiran dan ide-idepun lebih seger aja ngalirnya.


Rasanya benar-benar dikucur sama berkah deh.


Thanks God!


Intinya sih, September mengajarkan aku untuk percaya dan berserah. Mengingatkan aku untuk berhenti sebelum memulai kembali.





Meyakini dan menjalani apa yang datang, bahwa semua baik dan merupakan yang terbaik untuk kita.

 

Yang itu artinya, Oktober ini mulai sok-sok produktif lagi. LOL.


Tapi karena udah rehat jiwa dan batin. Fisik dan mental. Semangatpun jadi lebih bergelora.


Tetap semangat beb. Berhenti sejenak itu perlu.


Sampai ketemu di #JurnalBulananMadamabi Oktober nanti.


XOXO


Madamabi___

Friday, October 2, 2020

Seputar Film Dokumenter Paris Hilton

October 02, 2020


 Hello…

 

Jarang sekali aku bahas sesuatu yang viral di sini ya? Tapi sekali-kali boleh dong! Bermula dari sebuah konten dari platform parenting tersohor di negeri ini. Aku mengetahui bahwa, Paris Hilton mengunggah dokumenter tentang hidupnya. Kamu bisa saksikan di Channel You Tube Paris Hilton, yang judulnya "This Is Paris".




Karena point-point yang diangkat pada infografis tersebut menekankan perihal pola asuh. Jelaslah aku jadi semakin tergelitik untuk melihatnya.


Ya apalagi, dasarnya anak Sosiologi kan. Selalu tergelitik mengupas kehidupan. Wkwk.

 

Ya. Di sisi lain, meskipun bukan fansnya. Tapi Paris selalu punya magnet untukku. Seseorang ((seseorang)) yang masa remajanya pada sekitar tahun 2003 ke atas. Hampir semua majalah remaja menampilkan dirinya. Membahas tentang dirinya. Menjadikannya sebagai role mode (?), baik fashion maupun lifestyle. Memaparkan sisi positif maupun negatif dari seorang Paris Hilton. Cover edisi khusus dari sebuah majalahpun, kurang special rasanya jika tidak memampang wajahnya.

 

Suka ataupun ngga. Sulit untuk memungkiri bahwa segala trend yang terjadi pada masaku, yaaa berkat pengaruhnya si pewaris Hotel Hilton ini. Sebut saja trend maxi dress. White cardigan. Glossy pink lips. Rambut kriting spiral, plus poni melengkung sempurna. Gantungan HP yang rame banget, bulu-bulu, krincingan & boneka wkwkw. Masih banyak lagi deh gegap gempita masa remajaku yang bersumber dari seorang Paris Hilton.

 

Yah…  ada sedikit (demi sedikit = banyak) perasaan nostalgia muncul ketika aku melihat film tersebut. Aku baru menyadari. Ya amplop! Paris Hilton benar-benar bagian dari masa remajaku. Seyum-seyum sendiri rasanya memikirkan hal itu. Anganku jadi terbawa kemasa-masa paling indah yang meskipun pada masa itu tak jarang terasa pelik (lah curhat!).

 

Dari sepuluh menit pertama, otakku ngga berhenti bertanya-tanya. Ini benar pure atau masih gimmick sih? Sebegitu kuatnya kata “DRAMA” melekat padanya. Shoorih Pharish!! *ala-ala baby voice*

 

Durasi berlanjut, pikiran tadi berhasil kutepis perlahan. Meskipun masih memenuhi, tapi lebih kaleman. Tergantikan dengan pikiran-pikiran lain. Apa sajakah itu?

 

Inilah isi kepalaku selama menyaksikan Film Dokumenter This Is Paris!

 

Consent itu penting!

 

Perlu sekali untuk meminta izin anak atas perlakuan kita ke dirinya. Dalam Apapun itu! Anak memang anak. Kita memandangnya lebih kecil. Tapi tetap, dia seorang individu yang punya hak atas dirinya.

 

 Contoh simple yang masih nyangkut dengan kehidupan sekarang adalah. Kita sebagai orangtua sangking senang dan bahagia dengan anak kita, selalu berusaha merekam segala aktifitasnya. Alasannya memang untuk dokumentasi. Kenang-kenangan. Namun satu hal yang luput. Apapun itu. Sesadar apapun itu. Konsep dari mengabadikan lewat kamera, seperti menghipnotis kita untuk menyajikan yang terbaik. Ngga jarang, kita berusaha mengarahkan object tangkapan gambar kita untuk berakting nice, agar enak aja dilihat nantinya.

Akupun baru mulai konsisten menerapkan consent ini pada anakku, dua tahun belakangan, memang.

 

Ya mengabadikan sesuatu untuk dokumentasi memang ngga salah. Tapi tetap, praktikkan consent! Karena itu sangat penting. Terlihat sepele. Tapi dampaknya panjang dan tidak terkendali. Lagi pula, kalau memang niatnya mengabadikan. Ya sudah, biarlah semua berjalan apa adanya. Bukannya memang tujuan kita untuk melihat kenyaataan di masa ini, pada suatu saat nanti?

 

Ada juga bagian dari film ini yang menunjukkan kejengahannya saat di rekam selalu oleh Ayahnya.




Ya eneug juga kan. Makanya consent itu perlu.


Lagipula, jika tidak direkampun. Nilai bahagianya tidak akan luntur juga, bukan?


Inilah yang aku lihat dari seorang Paris Hilton. Sangking akrabnya dengan kamera. Ketika dewasa dia jadi selalu berusaha untuk menampilkan yang terbaik. Menampilkan apa yang orang ingin lihat. Meskipun itu bukan dirinya sendiri.

 

Bahkan sampai akhir dokumenterpun, ia selalu menekankan kata “aku ingin diterima” “aku ingin merasa diterima”. Ngga jarang bahkan dia harus terjebak dengan hubungan yang salah hanya karena ingin diterima. Atau keliru merasa diterima.

 

Ya salah satu akibatnya beredarnya rekaman pribadinya bersama sang mantan.


Merasa diterima itu, harus dari diri sendiri.

 

Populer. Dinanti-nanti. Dielu-elukan. Bukan berarti sudah merasa diterima. Itulah yang jelas sekali terlihat olehku pada bagian itu.

 

Populer ≠ Merasa Diterima

 

Aku jadi berpikir. Bisa jadi inilah yang melatarbelakangi  kasus-kasus pertikaian Paris dengan banyak orang. Sahabat-sahabatnya, misalnya.

 

Mirisnya media, menyoroti ini sebagai “yah.. inilah Paris Hilton. Sempurna tapi menyebalkan”.

 

Bahkan kala itu, banyak chick flick yang mewatakan tokoh menyebalkan dengan cirri fisik seperti Paris Hilton. Plus, baby voice-nya yang iconic itu. Ya, media memang punya andil dalam membentuk opini.

 

Oia, tentang baby voice. Dari tayangan berdurasi hampir dua jam ini, tersirat hal itu karena Paris memang mengakui jika dia tidak ingin tumbuh dewasa. Dia tidak mau menjadi dewasa. Bisa dibilang inilah yang membuatnya seperti bertingkah tidak sesuai dengan usianya.

 

Aku ingat sekali, dulu bahkan ada sebuah majalah remaja yang (mungkin) salah menyebutkan, bahwa Nicky Hilton adalah kakak dari Paris Hilton.

 

Dari sifat, sikap bahkan gaya busana memang kekeliruan itu cukup beralasan.

 



Nicky memang terlihat lebih tegas. Gaya busananya juga lebih simple dan elegant. Sedangkan Paris, ngga dipungkiri. Berapapun usianya, selalu terlihat seperti gadis SMA.

 

Pada sesi wawancara dengan Kathy Hilton (Ibu Paris Hilton), memang tersirat ambisi dan harapan yang besar kepada Paris. Selain nama besar keluarga, status Paris yang sebagai anak pertama membuatnya mengemban tugas untuk menjadi panutan.

 

Aku juga menangkap, adanya harapan yang tinggi atas privilege dari nama besar Hilton. Mempegaruhi ambisi Kathy akan kesempurnaan hidup kalangan terhormat.

 

Udah kebaca deh ya arahnya kemana, kalau anak terlalu diharapkan atas nama baik keluarga. Pasti perilaku ala remaja yang masih mencari jati diri bakalan terpengaruhi. Pemberontakanpun kerap dilakukan Paris sebagai bentuk protes kepada orangtuanya.

 

Tindakan yang diambil oleh orangtuanya untuk mengatasi kerebelan Paris, juga terdengar umum di ambil orangtua lainnya. Yang sayangnya, kalau dipikir-pikir tidaklah efektif.

 

Yaitu, menyerahkannya ke sekolah asrama guna mendisiplinkan Paris.

 

Sedih sih. Dalam urutan institusi sosial, institusi keluargalah yang paling utama baru intitusi pendidikan.

 

Sayangnya, memang pada kenyataannya masih banyak orangtua yang menjadikan institusi pendidikan sebagai solusi untuk menempa anak. Seakan-akan tidak ada jalur personal seperti menjalin pendekatan antara orangtua dan anak terlebih dahulu. Seandainyapun itu sudah dilakukan, bukan berarti orangtua melepaskan sepenuhnya kepada sekolah. Sebagus apapun sekolah, tetap anak lebih nyaman dididik oleh orangtuanya sendiri. Bonding itu tetap kunci ya dalam keluarga.

 

Walaupun cukup ngotot dan ingin lepas dari kendali siapapun. Tapi ngga bisa dipungkiri, terlihat kalau Paris ini juga cukup labil.




Misalnya dalam hal asmara. Ada kalanya dia mengucap, ingin sendiri. Lalu jatuh cinta dengan mudahnya. Kemudian merasa beruntung. Lalu setelah itu menyesal.


Oia, rasa sukar mempercayai orang dan seperti terlalu parno juga kelihatan sekali. Ya, jelaslah semua berdasar. Segala yang pernah terjadi padanya. Jelas membuatnya semakin skeptis dengan siapapun. 


Perasaanku selama menonton ini adalah, lelah banget ya jadi Paris! Wkwkwk.




Belum lagi kalau putus harus ganti laptop karna parno. Emang semuanya ada harga ya bok. Popularitas ada harga. Kekayaan ada harga. Fisik yang sempurna juga ada harga. Semua-semua ada harga.

 

Selalu ada harga yang harus dibayar atas hidup ini…

 

Meskipun pikiran “ini beneran murni dan apa adanya?” masih terbayang-bayang di kepalaku sampai menit-menit terakhir. Harus aku akui, ya apapun itu. Apapun persepsi orang padanya. Ngga bisa dipungkiri, Paris Hilton memang cukup tangguh dalam menjalani hidpnya selama ini. Memang ngga mudah dan ngga murah juga tentunya.

 

Sebab itu, meskipun terlihat berusaha keras untuk meluruskan imagenya selama ini. Hal ini juga yang membuat pikiran, documenter ini sengaja dibuat untuk cuci tangan dan membersihkan citra masih melayang di pikiranku Bahwa dia bukan gadis manja tanpa isi. Atau simplenya dia mau bilang:

 

“Aku ngga sebego itu!”

 

“Aku ngga semenyebalkan itu”

 

“Aku begini ada alasannya woy!”

 

Terlepas dari benar-benar murni atau tidaknya documenter ini. Tetaplah banyak sekali insight positif yang bisa dipetik.

 

Setidaknya, jika masih belum bisa menerima ini benar. Anggap sajalah sedang menonton fiksi. Haha. Fiksi juga punya nilai moral bukan.

 

Dan lagi-lagi, Paris selalu punya magnet untuk menarik perhatian. Buktinya setelah documenter itu keluar. Banyak tayangan-tayangan youtube maupun blog yang tertarik untuk membahasnya (ya aku salah satunya). LOL.

 

XOXO

 

Madamabi___

Review: Ella Skin Care Goats Milk Whitening Body Lotion

  Holla…   Karena pernah punya pengalaman buruk akibat mengabaikan penggunaan body lotion. Aku benar-benar kapok untuk mengabaikan hal s...