Wednesday, June 2, 2021

Because This Is My First Life



Holla...


Bulan ini tuh tadinya udah malas nonton drakor. Karena terakhir kali nonton, mogok di beberapa episode terkahir. Kayak bertele-tele dan ngga nyaman lagi ditonton.


Terus, karena ngelihat storynya Mba Anggi, tergoda untuk nonton Because This Is My First Life (BTIMFL) yang memang udah masuk watchlist.


Nah... Kalau setelah nonton atau baca buku. Lalu aku sampai bikin blogpostnya, pastilah ini jadi sesuatu yang bikin baper dan susah move on.


Haha..


Kenapa aku sampai baper dan susah move on?


Nih, aku ceritain di sini ya.


Lebih Dari Sekedar Kisah Kawin Kontrak




Yoon Ji Hoo (Jung So Min), seorang asisten penulis drama yang berusia 30-an. Harus memasrahkan rumah yang ia cicil, demi sang adik laki-laki yang akan memiliki anak.


Disaat ingin mempertahankan haknya, ia menyadari telah kalah pada babak awal permainan. Keluarganya yang menjunjung tinggi budaya patriarki, tengah berbahagia karena calon keponakan Ji Hoo adalah laki-laki.


Dia sadar benar, bahwa kekuatan haknya sebagai pencicil rumah telah dikalahkan oleh jenis kelamin calon keponakannya. Tidak ada jalan lain. Dia harus meninggalkan rumah tersebut.


Di tengah keresahannya yang tidak tahu harus ke mana. Ji Hoo mendapat informasi dari sahabatnya, Yang Ho Rang (Kim Ga Eun), bahwa ada rumah yang bisa ditempati. Tanpa harus membayar deposit, yang merupakan salah satu kendala Ji Hoo dalam menemukan tempat tinggal. Sewanya juga murah, tempatnya nyaman. Hanya saja, dia harus melakukan beberapa pekerjaan rumah. Mengurus kucing pemilik rumah dan memilah sampah rumah tangga yang akan di daur ulang.


Ji Hoo menyanggupinya.


Meskipun pada awalnya terjadi kesalahpahaman. Dia pikir, sang pemilik rumah adalah seorang wanita. Ternyata, seorang laki-laki. Yaitu Nam Se Hee (Lee Min Ki), karyawan perusahaan Start-Up yang bergerak di bidang IT.


Se Hee harus mencari housemate untuk membantunya meringankan beban biaya cicilan rumah. Juga... Menjaga kucing kesayangannya. Yang terakhir emang agak "rada-rada" sih untuk alasan mencari penyewa rumah. Haha.


Setelah saling mengetahui bahwa terjadi kesalahpahaman. Ji Hoo paham jika dia harus meninggalkan rumah Se Hee.


Se Hee juga sadar, jika dia harus kehilangan penyewa yang sangat cekatan dan memiliki skor tertinggi di antara penyewa lainnya. Iya.. Namanya juga agak freak (haha) penyewa juga dibikin skor bok.


Malangnya, Ji Hoo yang terluntang-lantung, mengalami kejadian tidak mengenakan di tempat barunya. Sebuah ruang kecil semacam gudang di tempat kerja barunya. Di situlah ia mengalami percobaan pelecehan sexual dari rekan kerjanya. Kejadian itu membuatnya kabur, dan hingga akhirnya... Sampai di rumah Se Hee.




Dari peristiwa itu, meskipun tidak tahu betul apa yang terjadi. Se Hee semakin yakin bahwa mereka saling membutuhkan. Ji Hoo butuh tempat tinggal. Dia butuh Ji Hoo.. Ngg.. Nganuu.. Untuk ngurusin kucingnya. Wkwk.


Kesepakatan menikah kontrakpun akhirnya deal. Meskipun cukup mengemparkan keluarga dan teman mereka. Namun Ji Hoo dan Se Hee tidak memiliki pilihan lain untuk problem mereka saat itu.




Lalu... Apakah semuanya menjadi lebih baik?  Benarkah kawin kontrak ini solusi bagi mereka? Atau malah...


Nah itu dia kalian harus nonton. Hihi


Banyak Banget Hal-Hal Yang Relate


Seperti yang pernah aku ceritain di blogpost #JurnalBulananMadamabi, aku newbie lah di dunia drakor. Tapi aku menilai kalau banyak banget persamaan problem orang Korea dengan Indonesia. Secara kultur memang beda. Namun kehidupan sosial kita dengan mereka banyak banget cocoknya.


Apalagi drama ini isinya tentang "isi kepala generasi muda yang berjuang dalam hidup". Fase-fase yang semua orang juga mungkin ngalamin. Jadi ngga bisa dihindari, banyak sekali hal yang relate dan bikin nyaman nontonnya. Karena paham dan seperti masuk ke dalam ceritanya.


Kayak kisah Ji Hoo yang merupakan generasi yang lahir pada akhir tahun 1980an. Masa di mana negara sedang jaya-jayanya dan ekspektasi kehidupan yang mudah dan sukses sangat besar. Eh ternyata harus mengalami yang namanya krisis. Ini juga aku alami. Lahir di tahun yang berdekatan dengan Ji Hoo dan harus mengahadapi krisis tahun 1998, dan menjalani hidup di negara yang sedang berjuang untuk maju. Nasib dan masa depanpun seakan terseok-seok, karena turut menghadapi adaptasi dan perkembangan zaman.


Mempertanyakan Sistem Patriaki Dengan Cara Yang Santai


Cerita dibuka oleh narasi dari Ji Hoo tentang bagaimana dominasi kaum pria sangat kental di keluarganya. Bahkan ketika ulang tahunpun, dia tidak mendapat privilege untuk meniup birthday cakenya sendiri. Selalu diambil alih oleh adiknya.




Sampai akhir ceritapun, akan kental sekali nuansa mempertanyakan budaya patriaki ini. Gimana Ji Hoo ngerasa keperihan dan disulitkan atas ketimpangan gender ini. Tapi bukan dalam artian yang frontal dan mengecam gitu. Lebih ke seperti tanda tanya yang nadanya mengarah ke "kok gini amat ya?".


Menurutku cukup santai sih. Karena memang relate dan sinkron dengan kenyataan.


Akan banyak scene yang menunjukan bahwa memang di Korea, perempuan tetap menjadi warga kelas kedua. Meskipun dari kalangan berpendidikan ataupun ekonomi mapan. Baik tinggal di kota, maupun daerah kecil.


Budaya patriaki ini juga ditunjukan dengan jelas menjadi sumber kerugian. Contohnya di keluarga Ji Hoo. Dia harus mengalah kepada adiknya. Memang adik Ji Hoo digambarkan baik kepadanya. Masih respect lah sama kakaknya. Tapi tetap aja, Ji Hoo juga jadi korbannya kan. Karena akar masalahnya terletak pada budayanya. Orang-orangnya mungkin ngga punya maksud jahat, tapi budayanya yang memang nyakitin.


Lalu, nasib istri setelah menikah yang tidak bisa lagi menjadi dirinya sendiri dan harus mengubur impian. Ini terlihat dari karakter Ibu Ji Hoo, Ibu Se Hee dan tuntutan keluarga kepada Ji Hoo ketika dia sudah menikah.


Bahkan Ibu Ji Hoo sampai sengaja memohon kepada Se Hee di hari pernikahan mereka. Agar kelak Se Hee tetap membiarkan Ji Hoo meraih impiannya, yaitu menulis drama.


Ibu Ji Hoo dan Se Hee terlihat sekali seperti tidak berdaya mengungkapkan pendapat dan perasaannya di hadapan keluarga. Mereka hanya sebagai penyambung suara pihak laki-laki.


Begitu Ji Hoo ketika menikah dengan Se Hee dianggap harus meninggalkan pekerjaannya. Harus memikirkan anak. Harus mengabdi pada keluarga suami (sesimpel beres-beres di rumah ortu Se Hee).


Tapi seperti yang aku bilang, bias gender ini dipaparkan cukup santai. Nunjukin kejadian-kejadian yang berhubungan aja. Ngga ngotot. Namun emang relate dan kerasa sih. Apalagi di Indonesiapun masih kuat banget kan budaya patriakinya? Jadi kerasa banget emang.


Persahabatan Dengan Karakter Berbeda Namun Tidak Menghakimi


Persahabatan tokoh utama dengan sidekicknya tuh selalu jadi favoritku. Rasanya kalau tokoh utama ngga ada teman dekatnya tuh kayak ada yang kosong.


Di serial ini, Ji Hoo Memiliki dua sahabat yang berbeda karakter dengannya.


Yang Ho Rang yang ceria. Memiliki mimpi menjadi ibu rumah tangga dan tinggal satu atap dengan mertua. Baginya, hidupnya akan dia abdikan sepenuhnya untuk membangun keluarga yang bahagia.


Woo Soo Ji (Esom). Perempuan independent dengan karir yang mapan. Menghindari komitme. Karena latar belakangnya sebagai anak yang dibesarkan oleh single mom, yang juga disabilitas.


Kelihatan kontras banget kan, dengan Ji Hoo yang polos, naif, namun nekat pada moment tertentu.




Meskipun karakter dan jalan hidup yang diambil berbeda. Namun para ciwi-ciwi ini saling memahami. Memang, ada moment  bingung dan ketidak setujuan. Tapi pada akhirnya mereka fine-fine aja dengan itu dan tetap saling mendukung.


Begitupun dengan persahabatan para cowoknya. Se Hee, Ma Sang Goo (Park Byung Eun) dan Sim Won Seok (Kim Min Seok). Kalau para lelaki-lelaki ini, mereka memang ngga fix sahabatan bertiga. Tapi Sang Goo yang jadi penghubung. Se Hee dekat dengan Sang Goo. Sang Goo dekat dengan Won Seok.




Memang pada akhirnya ketiganya sering menghabiskan waktu bersama. Ketiga laki-laki ini juga memiliki karakter dan problem yang berbeda-beda. Tapi bisa saling support dan respect.


Zaman sekarang tuh ya, sahabatan mudah. Tapi ya tetap, saling respect di saat pilihan dan jalan hidup berbeda itu susyeh bok. Makanya aku suka dengan cara karakter-karakter ini membangun persahabatan mereka.


Mendeskripsikan Pernikahan Dengan Konsep Realistis dan Kekinian


Dalam drama ini, banyak sekali dialog yang aromanya mempertanyakan arti dari pernikahan.


Meskipun kedua tokoh enggan dan masih rancu dengan konsep pernikahan. Akan tetapi, drama ini meluruskan arti pernikahan yang realistis. Bukan mengecam. Tidak juga lantas menyetujui sistem yang ada.




Tapi mendeskripsikan pernikahan dengan realistis. Bahwa yang terjadi dan dipahami orang saat ini tuh konsep pernikahan turun temurun. Padahal sejatinya pernikahan itu sifatnya personal antar pasangan itu sendiri. Kita ngga harus pakai template yang sama dengan para tetua kita ataupun orang lain.





Meskipun memang akan dianggap aneh dan berpotensi menjadi buah bibir. Tapi balik lagi, pernikahan kita. Ya punya kita. Aturan kita.


Aku sih, yes!


Drama Ini Mencontohkan Definisi Hubungan Yang Sehat, Bukan Hanya Dalam Hal Asmara


Di drama Because This Is My First Life. Kita akan melihat beberapa jenis relationship.


Bukan hanya dalam hal asmara. Tapi juga relationship lain. Seperti persahabatan dan dunia kerja.


Kalau persahabatan udah aku bahas duluan ya. Gimana para karakter membangun persahabatan yang supportif meskipun tujuannya berbeda-beda.


Kalau hal asmara, bisa dilihat drama ini menekankan banget bahwa hubungan yang sehat itu saling memenuhi satu sama lain. Memahami satu sama lain. Saling respect.


Seperti Ho Rang dengan Won Seok yang meskipun terpaut berbedaan usia (di mana yang perempuan lebih dewasa), tetap saling mengisi satu sama lain.





Sang Goo yang mampu memahami kondisi Soo Ji. Serta Soo Ji yang pada akhirnya memahami ketulusan Sang Goo.


Se Hee dan Ji Hoo yang mantap menghadapi tatapan aneh sekitar mereka (terutama orangtua masing-masing).


Lalu dalam dunia kerja juga ditunjukan contoh dari lingkungan kerja yang sehat serta yang toxic.


Yang sehat diwakili oleh Sang Goo yang merupakan CEO perusahaan Start-Up yang sangat berusaha untuk menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan hangat bagi karyawannya.


Sedangkan lingkungan kerja yang toxic, bisa dilihat dari interaksi Soo Ji dengan rekan-rekan kerjanya. Dimana Soo Ji kerap menjadi bulan-bulanan (yang lekat dengan aroma sexual harassment) dari rekan kerjanya yang didominasi oleh pria.


Begitupun dengan rekan kerjanya yang perempuan, tidak turut membantu. Malah ikut menggunjing dirinya. Bye, women empower women. Hiks.


Karakternya Pas & Acting Pemainnya Ciamik


Pengkarakteran tokoh-tokoh di sini juga pas. Ciri-cirinya menggambarkan watak masing-masing. Oke banget tim castingnya. Detail banget, mulai dari ciri fisik, mimik sampai stylenya, pas dengan karakter.


Acting dari aktor/aktrisnya juga cakep. Bisa membawa karakter mereka dengan baik. Karena mostly diramaikan oleh pemeran yang memang udah malang melintang di dunia seni peran.


Semula sih aku ngga ekspektasi apa-apa sama actingnya Jung So Min. Karena pernah lihat acting dia di dua drama sebelumnya. Eh ternyata di sini, dia memainkan perannya dengan apik. Polosnya dapat. Naifnya kenak. Nekatnya juga kerasa. Natural dan real sekali.


Btw, aku baru ngeh kalau pemasangan Lee Min Ki dengan Jung So Min di sini, bibit dari karakter mereka di What's Wrong With Secretary Kim?


Terus, itu si Lee Min Ki keknya tiap main drama/film bisa banget ya bikin mimik yang berbeda. Bunglon banget. Aku meratiin dia di beberapa drakornya, kok seperti orang lain ya? Padahal mah dia-dia aja. Di Because This My First Life, asli kaku beut, belum lagi kayaknya dia ngeset bagian wajahnya juga biar kelihatan kaku dan ngga ada ekspresi. Di The Beauty Inside, ala-ala CEO banget. Di Oh! Master beda lagi looknya. Btw, aku ngerasa dia versi koreanya Fedi Nuril. Mirip ngga sih? Wkwk.


Ada juga karakter namanya Yoon Bo Mi. Ini cewek jauh banget dari karakteristik anak IT yang biasa tomboy. Di sini dia jutek, straightforward dan cute juga. Apalagi looknya yang ala-ala lolita. Gemes banget meskipun mimiknya lancip. Belum lagi ketika dia menganalisa masa depan hubungannya dengan Won Seok. Pake statistik bok. Wkwk. Versi perempuanya Se Hee juga nih. LOL.


Kemudian, aku juga menaruh perhatian lebih sama karakter Soo Ji. Suka banget lihat mulut dan tatapan mata sarkasnya. Tangguh dan percaya diri sekali. Penggambaran perempuan sensualnya juga oke. Kesan sexynya dapat, tapi ngga berlebihan dan tetap elegan. Jadi pengen lihat actingnya si Esom ini di serial/film lain deh.


Lalu, meskipun sebentar. Go Jung Min yang perankan oleh Lee Chung Ah juga bikin terpesona. Anggun, mature dan sweet banget.


Sinematografis Yang Menunjukan Sisi Modern & Damai Kota Seoul


Nonton ini, bikin pikiran pengen tahu kota Seoul gimana tuh muncul. Padahal awalnya aku ngga gitu punya perhatian lebih sama negara ini.


Sinematografisnya indah dan menggambarkan situasi kota Seoul yang modern dan kayaknya damai. Jadi kebawa suasana. Ngebayangin diri berada di sana. Jalan kaki malam.


Pengambilan gambarnya juga santai dan ngga bikin puyeng. Enjoy banget.


Alurnya Santai Di Awal, Tapi Bikin Dag Dig Dug Pada Akhirnya


Alurnya bikin aku nyaman sekali untuk melanjutkan menonton drama ini. Padahal sempat stuck sama drakor dan males. Karena drakor terakhir yang aku tonton agak mehe-mehe dan ngga nyaman dilanjutkan.


BTIMFL ini bikin trauma drakorku hilang. Karena alurnya santai tapi ngga bertele-tele.


Namun... Di akhir emang dibikin gregetan dan mau cepat-cepat ke episode terakhir aja. Gimana enggak, dikira. Bakalan lancar jaya no drama lagi, eh taunya ada aja ya yang muncul!


Hufft.


Scene Favorit Aku Adalah...




Moment-moment  ketika Ji Hoo dan Se Hee naik bus bareng. Sumpah ya. Aku senang sekali dengan scene naik angkutan umum ini. Ya karena bersih juga busnya. Haha. Nyaman banget lihatnya. Romantic vibesnya menyeruak deh perlahan. Lagian zuzur juga, agak bosen bok lihat adegan pasangan di mobil muluk.


Ketika flashback ke masa SMA mereka. Saat itu ada adegan Ji Hoo, Ho Rang dan Soo Ji berantem (masa di mana mereka belum bersahabat akrab). Ketiganya di hukum, tapi hanya Ho Rang yang di tempeleng para guru, karena dia bukan murid yang pintar dan dianggap biang kerok. Kasian sih, tapi kekeh juga pas adegan Ho Rang di tempeleng bolak-balik sampe rambutnya berantakan. Wkwk. Omg, emang actingnya oke juga sih. Ngenes tapi lucunya dapet.


--


So.. Meskipun bukan drama baru. Aku rekom banget sih untuk yang butuh tontonan ringan, sarat makna tapi ngga menggurui. Belum lagi, romancenya juga sweet tapi ngga cheesy. Cuss deh nonton buat ya belum. Tapi kemungkinan besar bakalan baper. Siap-siap ya. Hehe...


XOXO


Madamabi___

2 comments:

  1. Drama favorit aku dan suami. Saat itu nonton karena bosan sama drama2 yang romantis. Pas nonton ini lucu dan ya...keterusan deh nontonnya..

    ReplyDelete
  2. mbak...baca tulisannya enak banget, kayak diceritain ulang lagi.. semacam lagi curhatan sesama pecinta drama ini :) jadi pingin lihat dramanya lagi hihi.... aku juga suka scene mereka di bis. Relate banget ye kan, masih sibuk mikir cicilan rumah, jadi lom sempet mikirin beli mobil hihi... Scene ibu Ji Hoo waktu ngasih surat ke Ji Hoo dibaca si Nam Se Hee itu part paling nyesekkk buat aku.. jadi mikir juga, apa ibuku punya pikiran sama waktu aku menikah ya, secara ibu tuh pingin banget liat anaknya kerja lagi setelah nikah. Realitanya sih enggak wkakak walau suamiku juga nggak melarang. Part nyesek juga terasa waktu Ji Hoo jalan sendirian di terowongan :(

    Nice mbak... semoga akan ada drama lain yang relate begini biar mbak review lagi kwkwk.. oiya Esom main di drama baru Taxi Driver. Aku nggak nonton sih soalnya genrenya berat, aku nggak terlalu suka :)

    ReplyDelete

Hai. Terimakasih sudah membaca postingan ini. Silahkan memberi komentar yang baik dan tentu saja sopan ya dear. 😘

Review: L'OREAL Paris Revitalift Crystal Fresh Hydrating Gel Cream

Holla... Setiap L'OREAL Paris mengerluarkan produk baru dengan label "Revitalift". Pasti aku selalu mencuri perhatianku. Apal...